Makassar | Mitosnews | Lily Rachim, salah seorang pembedah buku “Maharku: Pedang dan Kain Kafan” karya Rahman Rumaday yang diangkat dari kisah nyata kehidupan cintanya dengan Almarhumah istrinya, Heliati Eka Susilowati (Esti).

Menelisik buku dari sisi kesetaraan gender. Lily mempertanyakan arti setia atau fidelitas seorang Rahman Rumaday.

Prinsip fidelitas atau kesetiaan dalam pernikahan berarti tetap berusaha menjaga kesetiaan dan kekudusan pernikahan.

Kekudusan menggambarkan terhubungnya seseorang dengan Tuhan dengan sikap menolak segala sesuatu yang tidak berasal dari padaNya. Hubungan yang utuh ini tidak mungkin terjadi jika yang bersangkutan membawa luka-luka masa lampaunya kedalam hubungannya dengan Tuhan.

“Apakah dia setia dengan seorang Esti, Esti sekarang sudah tidak ada, atau jangan-jangan dia setia dengan dirinya,” tukas Lily yang juga seorang Analis Dampak Lingkungan (Enviromental Impact Assesor).

“Saya secara pribadi menilai bahwa buku pertama lebih ada klimaks dibanding buku kedua ini dan saya lihat buku kedua tidak menyelesaikan jilid pertama,” tambahnya.

Sementara Mahrus Andis menyampaikan bahwa buku ini tergolong karya sastra karena sudah masuk tiga unsur yaitu, estetika, etika dan logika.

“Dan buku ini menampilkan strukturalisme genetik dan masuk dalam karya sastra genre autobiografis,” ucap Mahrus.

Lain halnya dengan Yudhistira Sukatanya, dia menekankan bahwa buku Maharku Pedang dan Kain Kafan ini adalah sejenis karya Memoar atau memoir yang menceritakan kisah Maman dan Esti mulai pertemuan hingga Esti tutup usia.

“Jadi ini buku adalah Maman apa adanya, dia tidak boleh menambahkan suatu imajinasi apapun dari pikirannya,” kata Bang Yudhi demikian biasa disapa.

“Karena ini dari Tuhan yang tidak bisa di dramatisir,” kuncinya.

Menanggapi hal itu Maman (Rahman Rumaday) menyatakan bahwa dia setia atau cinta bukan karena sosok Esti, akan tetapi ini murni karena cintanya kepada pencipta Esti.

“Cinta saya hanya kepada Allah, saya mencintai Esti karena Allah. Saya mencintai sesuatu semuanya karena Allah,” tegas Maman.

“Jadi hingga kini saya belum menemukan pengganti Esti bukan karena cinta saya terkubur bersama Esti, namun Allah belum memberikan petunjuk untuk memilih seseorang untuk saya agar dapat menjadi imam bagi dirinya,” pungkasnya.

Bertempat di Ruang Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan, Rabu 23 November 2022. Buku karya pria karib disapa Bang Maman ini menghadirkan tiga narasumber sebagai pembedah.

Ketiga pembedah memang ahli di bidangnya itu antara lain, Mahrus Andis seorang kritikus sastra dan merupakan satu-satunya kritikus sastra di Sulsel saat ini, kemudian Yudhistira Sukatanya yang bernama asli Edy Thamrin ini merupakan sutradara teater ternama di Sulsel dan Lily Rachim yang merupakan penggiat kesetaraan gender yang mengupas seputar sosok bernama Esti. Dengan dipandu oleh Arwan D. Awing yang merupakan seorang jurnalis.

Bedah buku dihadiri oleh S. Fatma Assegaf seorang aktris, produser dan sutradara film, juga dihadiri oleh para seniman, akademisi, mahasiswa dan para penggiat literasi. _Awing/ @ly_

Bagikan

Durasi Iklan Desember 2023 | Biaya Rp. 3.700.000

Untuk pemesanan iklan Hub. 0852 4087 6013

%d blogger menyukai ini: