banner 728x250

Akan Digelar 29 Juni, Ikan Ambu Akan Dipamerkan di Dapur Mandar Pamboang

banner 120x600
banner 468x60

Majene, Mitos News — Di tepian Majene, di mana angin laut membawa harum garam dan kenangan, ikan Ambu akan dipentaskan bukan sekadar sebagai santapan, melainkan sebagai naskah budaya yang dibaca bersama. Penelitian tentang ikan khas ini yang dipimpin Dr. Nurjirana, S.Kel., akan dipadukan dengan diseminasi hasil dan pameran kuliner pada 29 Juni di Dapur Mandar Pamboang.

Kegiatan itu lahir dari upaya mendokumentasikan dan melestarikan kearifan lokal pengolahan ikan Ambu sekaligus memperkenalkan potensi budaya dan ekonomi masyarakat pesisir Majene. Tim peneliti menelusuri keberadaan ikan Ambu di perairan setempat, merekam alat tangkap tradisional yang berjejak waktu, dan mengumpulkan ragam olahan kuliner yang menyimpan rasa-rasa leluhur.

“Penelitian ini tidak hanya merekam data ilmiah, tetapi juga menyimpan nilai budaya yang penting bagi komunitas pesisir,” ungkap Dr. Nurjirana dalam keterangan pers yang diterima panitia. Ia menyebutkan bahwa setiap teknik pengolahan merekam cerita; setiap resep memori yang diwariskan dari tangan ke tangan, dari muara ke dapur rumah.

Pameran kuliner dan diseminasi dirancang untuk menjembatani temuan akademis dengan praktik keseharian. Panitia menargetkan hadirnya lintas sektor: Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, akademisi, perwakilan komunitas, serta warga setempat. Kehadiran mereka diharapkan membuka lorong-lorong kolaborasi untuk mengangkat ikan Ambu menjadi aset budaya dan daya tarik wisata.

Di Dapur Mandar Pamboang, pengunjung akan mendapati demonstrasi pengolahan tradisional yang bergerak seperti ritual—tangan-tangan piawai mengiris, meracik, mengasinkan, dan mengasapi dengan sabar, diiringi cerita-cerita nelayan yang menautkan nama ikan pada musim, tanda angin, dan doa pulang. Sesi tanya jawab antara peneliti dan pelaku budaya dijadwalkan memberi ruang bagi dialog, sementara stan-stan kuliner mempertemukan variasi hidangan berbahan ikan Ambu yang menggoda indera.

“Saya berharap generasi muda memahami teknik penangkapan dan pengolahan yang diwariskan, sehingga tradisi ini tidak hilang,” kata salah seorang perwakilan komunitas nelayan, suaranya seolah menancapkan jangkar pada masa depan warisan kuliner.
Kegiatan ini juga dipandang membawa sinyal-sinyal ekonomi.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang akan hadir menyatakan dukungan untuk mengeksplorasi peluang pengembangan wisata kuliner berbasis kearifan lokal. Langkah itu dinilai selaras dengan upaya pembangunan ekonomi daerah yang berkelanjutan sekaligus menjaga denyut budaya.

Panitia mengimbau masyarakat hadir dan berpartisipasi aktif. Selain menyajikan hasil penelitian dan cita rasa kuliner khas, acara diharapkan menjadi ruang dialog untuk merancang langkah pelestarian berikutnya—mulai dari dokumentasi lebih lanjut hingga program pembinaan bagi pelaku usaha kuliner lokal. Dengan demikian, pengetahuan tentang ikan Ambu dan tradisi pengolahannya diharapkan terekam, dihargai, dan berdenyut dalam kehidupan masyarakat sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas pesisir Majene.

Di akhir hari, ketika asap pengasapan menipis dan piring-piring kosong menumpuk, ikan Ambu akan tetap menjadi saksi hidup, bukan hanya pada meja, tetapi pada cerita-cerita yang terus dipeluk masyarakat Majene.